Memulai bisnis identik dengan mengurus segala hal yang terkait dengan bisnis sampai ke bagian terkecil yang sangat detail. Namun sebetulnya memulai bisnis bisa tanpa menguras waktu, tenaga, dan pikiran yang begitu besar, loh.

Paradigma memulai bisnis ribet sebetulnya berasal dari hirarki prioritas yang salah dalam memulai bisnis. Seharusnya bisnis dimulai dengan tepat dalam hirari prioritas yang jelas.

Dengan demikian pikiran, tanaga, dan waktu terfokus pada satu bagian dalam satu periode waktu. Sedangkan hal yang detail kurang esensial tidak perlu diurus di awal.

Jaya Setiabudi mengajarkan dalam bukunya yang berjudul “7 Formula Buka Langsung Laris” mengajarkan cara membuka bisnis dengan sangat sistematis. Disini saya akan menjelaskan cara sederhana memulai bisnis yang mudah berdasarkan buku tersebut.

1. Bidik Pasar Potensial

Hindari pasar yang sudah terlalu padat, yaitu pasar yang ketersediaannya lebih besar dari permintaannya. Jadi apabila anda saat ini memiliki keinginan untuk memulai bisnis yang lebih banyak ketersediaannya ketimbang permintaannya, selamat anda akan berdarah-darah bertarung merebut pelanggan yang semakin kecil.

Jadi yang pertama adalah mulai dengan membidik pasar yang potensial.

 

2. Buat produk yang ngangenin

Memulai bisnis adalah dengan menyediakan produk yang ngangenin. Produk yang membuat orang lain ingin membeli lagi dan lagi. Cobalah buat produk yang memiliki keunggulan besar dibandingkan dengan produk lainnya.

Sebarkan produk anda dan minta pendapat orang lain tentang produk anda.

 

3. Promosi

Hal yang tak boleh dilupakan dalam bisnis adalah melakukan promosi. Promosi dilakukan dimulai dari membuat kemasan produk yang membuat orang lain melihatnya pertama. Yang pertama dilihat akan cenderung dibeli. Selain kemasan, buat juga nama merek dagang yang mudah untuk diingat.

Jangan lupa untuk memikirkan saluran distribusinya. Bagaimanapun promosi harus imbang dengan distribusinya. Jangan sampai bisnis melakukan promosi dengan sangat masif kemudian ketika telah memperoleh calon konsumen yang sangat banyak, calon konsumen justru tak tau bagaimana cara mendapatkan produk. 

Demikian juga sebaliknya jika produk ada di mana-mana namun tak seorangpun calon konsumen tahu, tak akan ada pembelian.