Pandemi COVID-19 telah berdampak besar pada dunia kerja, terutama bagi perempuan. Menurut data dari Biro Pusat Statistik (BPS), angka partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia turun dari 52,88 persen pada Februari 2020 menjadi 51,88 persen pada Agustus 2020. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka perempuan juga meningkat dari 5,59 persen menjadi 7,88 persen dalam periode yang sama.

Salah satu faktor yang menyebabkan perempuan meninggalkan dunia kerja adalah beban peran ganda yang semakin berat selama pandemi. Banyak perempuan yang harus mengurus rumah tangga, anak-anak, dan orang tua, sambil bekerja dari rumah atau mencari pekerjaan baru. Beberapa perempuan juga mengalami diskriminasi, pelecehan, atau kekerasan di tempat kerja, baik secara langsung maupun daring. Selain itu, sektor-sektor yang banyak menyerap tenaga kerja perempuan, seperti pariwisata, perdagangan, dan jasa, juga mengalami penurunan akibat pandemi.

Situasi ini tentu sangat merugikan, tidak hanya bagi perempuan itu sendiri, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, dan perekonomian. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute, jika perempuan memiliki kesempatan kerja yang sama dengan laki-laki, produk domestik bruto (PDB) global dapat meningkat sebesar 26 persen atau sekitar 28 triliun dolar AS pada tahun 20252. Sebaliknya, jika kesenjangan gender dalam dunia kerja semakin melebar, PDB global dapat berkurang sebesar 4,5 triliun dolar AS pada tahun 2025.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah ini? Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil oleh berbagai pihak:

  • Pemerintah. Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung perempuan untuk tetap berpartisipasi dalam dunia kerja, seperti memberikan bantuan sosial, subsidi, insentif, perlindungan, dan fasilitas bagi perempuan pekerja. Pemerintah juga harus meningkatkan akses perempuan terhadap pendidikan, kesehatan, dan teknologi, serta memberantas segala bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan di tempat kerja.
  • Perusahaan. Perusahaan seperti virtual office jakarta harus memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan, promosi, dan penghargaan. Perusahaan juga harus memberikan fleksibilitas, kesejahteraan, dan keamanan bagi perempuan pekerja, terutama yang memiliki tanggung jawab keluarga. Perusahaan juga harus menerapkan budaya kerja yang inklusif, menghargai, dan menghormati perempuan, serta menindak tegas segala bentuk pelecehan atau kekerasan di tempat kerja.
  • Masyarakat. Masyarakat harus mengubah pandangan dan sikap yang stereotip atau negatif terhadap perempuan pekerja, seperti menganggap perempuan hanya cocok untuk pekerjaan tertentu, atau menganggap perempuan harus mengorbankan karier demi keluarga. Masyarakat juga harus memberikan dukungan, motivasi, dan inspirasi bagi perempuan pekerja, serta menghargai dan menghormati kontribusi perempuan bagi pembangunan.
  • Perempuan. Perempuan harus memiliki kepercayaan diri, kompetensi, dan kemandirian untuk mengembangkan karir mereka. Perempuan juga harus berani mengambil risiko, tantangan, dan peluang yang ada di dunia kerja, serta berinovasi dan berkolaborasi dengan pihak lain. Perempuan juga harus menjaga kesehatan fisik dan mental mereka, serta mencari keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Perempuan adalah aset penting bagi dunia kerja, yang memiliki potensi, bakat, dan kemampuan yang luar biasa. Dengan bekerja sama, kita dapat menciptakan dunia kerja yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi perempuan, serta mewujudkan mimpi dan aspirasi perempuan sebagai pekerja profesional.