Tugu Golong Gilig atau yang kini lebih dikenal dengan Tugu Pal Putih, merupakan salah satu monumen bersejarah yang menjadi ikon Kota Yogyakarta.

Terletak strategis di persimpangan empat jalan utama di Kota Yogyakarta, Tugu Pal Putih tidak hanya menjadi pusat orientasi bagi warga kota tetapi juga menyimpan nilai filosofis yang mendalam.

Mengetahui Sejarah Tugu Pal Putih

Objek Wisata Jogja ini dibangun pada tahun 1756, setahun setelah pendirian Kota Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Desain awal tugu ini mengusung konsep silinder (golong) dengan puncak berbentuk bulatan (gilig), yang melambangkan filosofi Jawa Manunggaling Kawula Gusti—kesatuan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Konsep ini diwujudkan melalui posisi tugu yang berada di garis lurus antara Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Pantai Selatan, mencerminkan hubungan kosmologi dalam kepercayaan Jawa.

Runtuh dan Pembangunan Kembali

Pada tahun 1867, Yogyakarta dilanda gempa tektonik yang mengakibatkan tugu ini rusak parah. Sri Sultan Hamengkubuwono VI, yang memerintah pada waktu itu, menyaksikan kerusakan ini.

Namun, pembangunan kembali Tugu Pal Putih baru terlaksana di era Sultan HB VII dengan desain yang berbeda sebagai upaya Pemerintah Belanda untuk menghilangkan simbol-simbol yang menguatkan kebersamaan antara raja dan rakyat.

Tugu yang baru ini memiliki desain persegi dengan puncak yang lancip, berbeda dari desain bulat sebelumnya, dan tingginya pun dikurangi menjadi 15 meter dari sebelumnya yang mencapai 25 meter.

Prasasti dan Makna Filosofis

Tugu Pal Putih kini dilengkapi dengan prasasti di keempat sisinya yang merekam sejarah pembangunannya.

Prasasti-prasasti ini tidak hanya menceritakan tentang proses pembangunan kembali tugu, tetapi juga menegaskan kembali nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh para Sultan Yogyakarta.

Dari prasasti tersebut, kita bisa menarik makna tentang pentingnya pemimpin dalam membawa negara menuju kemakmuran.

Tugu Pal Putih Sekarang

Tugu Pal Putih hari ini berdiri megah sebagai saksi bisu perkembangan Kota Yogyakarta. Dengan posisinya yang strategis, tugu ini tidak hanya menjadi landmark kota tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya warga dan wisatawan.

Sebagai salah satu bagian dari Sumbu Filosofis Jogja, Tugu Pal Putih mengingatkan kita pada hubungan spiritual antara manusia, alam, dan pencipta yang telah ada sejak lama dalam kebudayaan Jawa.

Di tahun 2015, sebuah miniatur Tugu Pal Putih dibangun di tenggara tugu saat ini. Miniatur ini dibuat sesuai dengan desain asli tugu dan dilengkapi dengan keterangan sejarahnya.

Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan memori kolektif masyarakat terhadap tugu yang merupakan bagian penting dari sejarah dan kebudayaan Yogyakarta.

Peran Sosial dan Budaya

Tugu Pal Putih, yang terletak di jantung Kota Yogyakarta, tidak hanya dikenal sebagai simbol historis atau batas wilayah, tetapi juga sebagai titik temu keberagaman sosial dan budaya.

Area sekitar tugu seringkali menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai acara kebudayaan, seperti perayaan hari besar keagamaan, pameran seni, hingga pertunjukan musik dan tari tradisional.

Kehadiran tugu di tengah kota seolah menjadi magnet yang menarik warga dan wisatawan untuk berkumpul dan menikmati keindahan serta keramahan Kota Yogyakarta.

Titik Temu Tradisi dan Modernitas

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, Tugu Pal Putih tetap berdiri kokoh, menjadi saksi bisu perubahan zaman dari masa ke masa.

Sekitar area tugu kini telah berkembang menjadi kawasan bisnis dan perdagangan yang modern, namun tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang kental.

Di sini, kita dapat menemukan perpaduan unik antara tradisi dan modernitas; di mana toko-toko modern berdampingan dengan pedagang kaki lima yang menjajakan makanan tradisional, serta galeri seni yang menampilkan karya-karya kontemporer maupun tradisional.

Wisata Edukasi dan Inspirasi

Bagi para wisatawan, khususnya yang berminat pada sejarah dan budaya, Wisata Dekat Malioboro ini menawarkan lebih dari sekedar pemandangan yang menarik.

Melalui miniatur dan prasasti yang ada, pengunjung diajak untuk mempelajari sejarah panjang tugu dan filosofi yang melandasi pembangunannya.

Ini menjadi peluang edukasi yang berharga, terutama bagi generasi muda, untuk memahami dan menghargai kekayaan sejarah dan budaya lokal.

 

Kesimpulan

Tugu Pal Putih tidak hanya merupakan sebuah monumen, tetapi juga lambang dari filosofi dan sejarah yang mendalam.

Sebagai bagian dari Sumbu Filosofis Jogja, tugu ini mengingatkan kita pada hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam dan Sang Pencipta, sebagaimana yang dianut dalam kebudayaan Jawa.

Kehadirannya di tengah perkembangan zaman menjadi bukti ketahanan dan kekuatan nilai-nilai tersebut, sekaligus menjadi pusat orientasi yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini dan masa depan Kota Yogyakarta.

Melalui Tugu Pal Putih, kita diajak untuk memahami lebih dalam tentang sejarah, budaya, dan filosofi yang menjadi dasar bagi masyarakat Yogyakarta dalam menjalani kehidupan sehari-hari.